Ayah,aku…

Ayah, izinkan aku memeluk hatimu sebentar, agar aku paham saat engkau lelah tanpa melihatkan kelelahan itu kepadaku.

Aku sudah lupa terakhir kalinya aku bertemu dan tertawa denganmu, menggenggam erat tanganmu, memelukmu. Entah apa yang terjadi hingga semua bisa menjadi seperti ini. Ataukah memang sebenarnya inilah yang sudah lama terjadi, tanpa aku sadari?

Maafkan aku ayah, aku tidak pernah bisa menjadi apa yang engkau harapkan hingga detik ini.

Maafkan aku telah berlaku kasar padamu, membentakmu, dan tak jarang aku mengumpat dan mengatakan aku membencimu. Maafkan aku ayah…

Aku tidak pernah tahu siapa sosok ayahku sebenarnya, ia hanya diam… di hadapanku dia tak pernah bicara, atau hanya sekedar tertawa, aku tidak mengenal dia itu siapa.

Ayah, aku lelah hidup begini, aku bingung… aku tidak pernah tahu apa yang sedang aku cari, aku tidak pernah tahu apa yang aku butuhkan, aku kadang ingin menyerah, kemudian pergi menghilang. Namun aku tak bisa… jika aku menengok ke belakang, akan selalu ada engkau… ayahku.

Darimu aku belajar berdiri sendiri, darimu aku belajar untuk tetap bertahan dalam kesendirian. Ayah… aku tahu engkau menderita, tapi aku tak pernah tahu sedalam apa rasanya. Ayah… aku tahu engkau sakit, namun aku tak pernah tahu seberapa sakitnya. Ayah… aku ingin mengenalmu, lebih dekat… menjadi orang yang bisa kau jadikan sandaran, saat hatimu gelisah, saat engkau lelah.

Ayah aku merindukanmu… meski aku tak tahu apa yang aku rindukan, meski aku tak punya kenangan. Aku ingin ayah selalu ada di dekatku…

Ayah… aku lelah, aku kesepian, aku sakit… Aku mengeluh setiap saat, aku menangis sepanjang jalan. Namun saat aku melihat ke belakang, aku melihatmu. Dan aku malu… aku berhenti mengeluh, aku berhenti menangis, karena engkau, Ayahku. Yang mengajarkanku untuk menjadi lebih tegar, yang mengajarkanku menjadi kuat, yang memerintahkanku lewat geraknya untuk kuat meski aku sendirian.

Ayah… aku tahu kau butuh teman, namun engkau ragu akan pergi kemana, akan bagaimana. Engkau selalu bertahan, selalu nampak kuat di setiap langkahmu, menahan perih sepanjang jalan. Namun aku tahu, engkau ingin menangis, engkau ingin teriak.

Aku tak sanggup melihatmu saat engkau sakit, saat engkau menggigil kedinginan. Ayah… aku tak ingin sendiri, jangan pernah engkau meninggalkanku. Ayah… dunia ini gelap sekali, dunia ini dingin, bagaimana bisa aku tanpamu?? bagaimana bisa aku sendiri??

Ayah… maafkan aku, maafkan aku menyakitimu. Aku hanya takut kehilanganmu, aku sangat takut kehilanganmu. Ayah… jangan pernah engkau pergi, jangan tinggalkan aku sendiri, aku tak akan sanggup….

Advertisements

One Response

  1. Aku ngerti bgt perasaan ini karena aku pernah di posisi itu.
    Yang bisa aku lakuin skg hanyalah menjadi apa yg diinginkan ayah dan berusaha sebaik mungkin jadi anak yg penurut dan penyayang… sebelum terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: